Mitos Hoax Dibalik Mengonsumsi Tempe

No comment 38 views
Mitos Hoax Tempe

Mitos Hoax Tempe

Ada sebuah rumor yang menyertai satu dari sekian makanan tradisional yang disukai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, yaitu kalau seorang pria terlalu sering mengonsumsi tempe, maka ia pun akan cenderung lebih gampang untuk mengalami masalah kesuburan. Sebetulnya, apakah rumor itu cocok dengan fakta medis?

Dalam mitos tersebut, dijelaskan bahwa kandungan isoflavon yang dapat ditemui di dalam kedelai, bahan utama dari tempe, dapat menyebabkan kelenjar kelamin pada pria menyempit sehingga menimbulkan penurunan produksi sperma dengan signifikan.

Sebuah penelitian juga dilakukan oleh Beaton dan timnya pada 2010 kemarin untuk membuktikan mitos ini. Hasil dari penelitian ini ialah, kualitas sperma pria yang rajin mengonsumsi protein kedelai dengan kadar isoflavon cukup tinggi cenderung setara dengan kualitas sperma pria yang rajin minum susu sapi. Tak hanya itu, Beaton pun menyoroti kegemaran masyarakat Jepang dan Tiongkok yang mengonsumsi kedelai tetapi sama sekali tidak mendertia gangguan reproduksi.

Penelitian lain yang dipublikasikan hasilnya di dalam Journal of American Dietetic Association membuahkan sebuah fakta bahwa proses fermentasi yang dilakukan untuk membuat sebuah tempe dari kedelai membuat kadar isoflavon di dalamnya tersebut cenderung tidak setinggi di dalam kedelai murni. Malahan, jumlah isoflavon di dalam tempe, susu kedelai, dan tahu pung berbeda-beda.

Satu hal yang pasti bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) dari Amerika Serikat menjelaskan bahwa kalau kita rajin mengonsumsi kedelai sebanyak 25 gram setiap hari, maka risiko untuk terserang penyakit jantung dapat ditekan. Malahan, kita pun dapat menurunkan kadar kolesterol total dalam tubuh hingga 9,3 persen. Berdasarkan penelitian, mengonsumsi kedelai dan produk turunannya seperti tempe pun dapat membuat tulang terjaga kesehatannya sekaligus menurunkan risiko terserang osteoporosis hingga 5 persen.

Untuk penderita diabetes, kedelai pun termasuk dalam makanan yang aman untuk dikonsumsi mengingat nilai indeks glikemiknya yang cenderung sedikit. Dengan mengonsumsi kedelai atau produk turunannya, maka kadar gula darah dapat dijaga tetap stabil sehingga pasti akan mencegah komplikasi pada penderita diabetes. Tak hanya itu, rajin mengonsumsi kedelai terbukti bisa menurunkan risiko terserang kanker payudara dan kanker prostat.

Ada sebuah rumor yang menyertai satu dari sekian makanan tradisional yang disukai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, yaitu kalau seorang pria terlalu sering mengonsumsi tempe, maka ia pun akan cenderung lebih gampang untuk mengalami masalah kesuburan. Sebetulnya, apakah rumor itu cocok dengan fakta medis?

Dalam mitos tersebut, dijelaskan bahwa kandungan isoflavon yang dapat ditemui di dalam kedelai, bahan utama dari tempe, dapat menyebabkan kelenjar kelamin pada pria menyempit sehingga menimbulkan penurunan produksi sperma dengan signifikan.

Sebuah penelitian juga dilakukan oleh Beaton dan timnya pada 2010 kemarin untuk membuktikan mitos ini. Hasil dari penelitian ini ialah, kualitas sperma pria yang rajin mengonsumsi protein kedelai dengan kadar isoflavon cukup tinggi cenderung setara dengan kualitas sperma pria yang rajin minum susu sapi. Tak hanya itu, Beaton pun menyoroti kegemaran masyarakat Jepang dan Tiongkok yang mengonsumsi kedelai tetapi sama sekali tidak mendertia gangguan reproduksi.

Penelitian lain yang dipublikasikan hasilnya di dalam Journal of American Dietetic Association membuahkan sebuah fakta bahwa proses fermentasi yang dilakukan untuk membuat sebuah tempe dari kedelai membuat kadar isoflavon di dalamnya tersebut cenderung tidak setinggi di dalam kedelai murni. Malahan, jumlah isoflavon di dalam tempe, susu kedelai, dan tahu pung berbeda-beda.

Satu hal yang pasti bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) dari Amerika Serikat menjelaskan bahwa kalau kita rajin mengonsumsi kedelai sebanyak 25 gram setiap hari, maka risiko untuk terserang penyakit jantung dapat ditekan. Malahan, kita pun dapat menurunkan kadar kolesterol total dalam tubuh hingga 9,3 persen. Berdasarkan penelitian, mengonsumsi kedelai dan produk turunannya seperti tempe pun dapat membuat tulang terjaga kesehatannya sekaligus menurunkan risiko terserang osteoporosis hingga 5 persen.

Untuk penderita diabetes, kedelai pun termasuk dalam makanan yang aman untuk dikonsumsi mengingat nilai indeks glikemiknya yang cenderung sedikit. Dengan mengonsumsi kedelai atau produk turunannya, maka kadar gula darah dapat dijaga tetap stabil sehingga pasti akan mencegah komplikasi pada penderita diabetes. Tak hanya itu, rajin mengonsumsi kedelai terbukti bisa menurunkan risiko terserang kanker payudara dan kanker prostat.

 

author

Leave a reply "Mitos Hoax Dibalik Mengonsumsi Tempe"